Tuesday, June 13, 2023

Haliza, Siswa Disleksia

Haliza, Siswa Disleksia

Ku dengar penjelasan orangtuamu, bahwa kamu sudah beberapa kali pindah sekolah karena selain orang tuamu pindah tugas juga karena berapa kali kamu tidak naik kelas.

Bermula dari kamu TK Paud dari umur 3 tahun sampai 6 tahun lebih kemudian kamu masuk SD dekat rumahmu tahun berikutnya pindah karena mengikuti orang tua namun kembali di kelas 1 lagi.  Tidak naik kelas lagi karena kamu dinyatakan tidak mampu mengikuti pelajaran di kelas 1. Kamu mengalami keterlambatan membaca, menulis dan berhitung.

Sekarang umurmu sudah mencapai 9 tahun. Mestinya sudah kelas 3 SD. Namun lagi-lagi kamu duduk di kelas 1. Kamu bercerita sering dimarahi gurumu, sering dimarahi orang tua dan dibully teman-teman karena tidak lancar baca tulis serta tidak bisa berhitung.

Kamu sering mendengar beberapa guru membicarakanmu, kamu juga sering mendengar teman-temanmu membicarakanmu, namun kamu tetap semangat untuk tetap belajar dan mengikuti kegiatan setiap hari. Kamu anak paling rajin. Daftar hadir gurumu hampir tak ada alfa namamu.

"Bagaimana perasaanmu saat sekolah di sini?" Aku bertanya sebagai wali kelas baru yang menggantikan wali kelas terdahulu karena pindah tugas. Kamu hanya tersenyum. Kemudian lari keluar karena waktunya istirahat.

"Apa kamu senang sekolah di sini?" aku mengikuti langkahnya sampai teras, terlihat teman lain jajan di kantin sekolah.

Lagi-lagi kamu tersenyum dan menunjukkan sejumlah uang padaku. Rupanya mau jajan seperti punya teman-temanmu. Aku mengangguk dan mempersilakan kamu untuk jajan.

***
"Haliza" aku mendengar ibu guru menyebut namaku, nama yang tertulis di daftar hadir guru.
"Ada," aku tunjuk tangan.

"Waktu belajar kita ada 4 bulan lagi sebelum Penilaian Akhir Semester (PAS). Ada beberapa siswa yang masih ketinggalan dan lambat. Bagaimana kalau setiap hari kita kejar ketinggalan dan belajar tambahan?" dari sekian banyak guru yang menemaniku belajar, aku suka guruku ini.

Dia mengerti ketidakmampuanku membedakan huruf-huruf yang dalam penglihatanku seperti menari-nari sehingga tidak jelas bentuknya. Aku tidak punya kekuatan menulis, tanganku lemah, tulisan ku hancur, mereka bilang seperti "cakar ayam" aku tidak mampu membedakan angka yang disebut teman-temanku.

Ketika aku membaca, huruf-huruf pada tulisan yang kubaca bergerak-gerak seperti menari. Kemudian aku merasa  pusing, sakit kepala, atau sakit perut saat membaca. Aku juga kesulitan dalam membedakan huruf sehingga tertukar tukar, misal d tertukar b, q tertukar p, w tertukar m, z tertukar s. Aku pun jadi sulit memposisikan letak huruf pada sebuah kata atau kalimat, seperti bali menjadi bail, air menjadi ari, dan sebagainya.

Oleh karena itu aku sering dicap malas, bodoh, ceroboh, tidak mau berusaha atau anak bermasalah. Kurasa aku tak seburuk itu. Aku senang membaca dalam hati karena lebih mudah menurutku, tidak memakan waktu. Apabila aku membaca  bi pintu. Aku sadar bahwa itu huruf "d" (di pintu). Maka segera aku betulkan bacaanku.

Dengan bimbingan guruku, aku mulai lancar membaca dan mencari jalan keluar atas ketidakmampuanku membaca dan terus latihan dengan kartu huruf dan kartu angka bergambar. Serta beberapa permainan yang membuatku mampu mengingat dan mudah memahami.

Salah satu permainan yang ku suka adalah lompat tangga. Untuk mengingat penjumlahan dan pengurangan. Tangga itu telah ditulis angka setiap 1 tangganya. Sehingga apabila naik berarti penjumlahan dan apabila turun berarti pengurangan.

***
Aku memandang semua siswa dan orangtua siswa yang hadir pada hari ini dengan senyum bangga atas hasil pencapaian siswa dan siswi kelas 1 tahun ini.

Tercermin bahagianya mereka tatkala menerima raport di tangan dan membaca hasil belajar siswa.

Tak terkecuali kamu dan orangtuamu, Haliza, kamu berhasil. Berhasil mengalahkan dirimu sendiri, menemukan cara bagaimana mencari penyelesaian atas huruf dan angka yang menari-nari dan membuat pusing kepalamu.

No comments:

Post a Comment

Siswa dan Talentanya

Siswa dan Talentanya  oleh Rohmiah Hari ini saya memberikan tugas kepada anak didik saya kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah (setingkat ...